Sebuah Esai Siti Nurbaya: Kisah Kasih yang Tak Berujung

14.26 Unknown 0 Comments


                Marah Rusli adalah seorang sastrawan di Indonesia pada angkatan Balai Pustaka dengan karya fenomenal yang tak kenal jaman yakni roman Siti Nurbaya yang ikut membawanya sebagai penerima hadiah tahunan pemerintah Republik Indonesia tahun 1969. Kisah yang dituturkan pengarang dalam roman Siti Nurbaya ditulis hingga begitu melegenda dalam dunia sastra di Indonesia hingga dibuatkan monument berupa jembatan Siti Nurbaya di Kota Padang.
            Dalam novel ini menceritakan bagaimana kelicikan seorang rentenir tua yang memaksa menukarkan pelunasan utang dengan menikahi anak gadis korban kelicikannya. Dalam keadaan masyarakat dan bangsa yang sering ditemui kawin paksa, Marah Rusli secara jelas mampu mengangkat realitas ke dalam cerita fiktif namun dalam keadaan yang sebenarnya novel ini berbeda tipis antara bagaimana novel ini disebut sebagai cerita fiktif atau realitas.
            Dalam novel Siti Nurbaya, sang pengarang mengambil masa kolonialisme sebagai latar keseluruhan cerita dengan bagaimana keadaan setiap tokohnya yang disusun dengan rapi. Pengarang membiarkan tokoh-tokohnya berpengaruh kuat terhadap satu sama lain.
 Dalam novel ini, diceritakan bagaimana kisah tak sampai seorang gadis yang mempunyai kekasih bernama Samsul Bahri yang harus melanjutkan sekolahnya di pulau seberang hingga menyebabkan mereka berpisah sementara waktu. Di lain pihak, melihat keberhasilan Baginda Sulaiman—ayah Siti Nurbaya—, Datuk Maringgih merasa iri lalu menyuruh anak buahnya menghancurkan usaha dagang Baginda Sulaiman hingga ayah Siti Nurbaya jatuh miskin dan tak mampu membayar hutangnya kepada Datuk Maringgih.
Di sini terlihat kelicikan Datuk Maringgih yang memang mengincar Siti Nurbaya agar menjadi istri mudanya. Ia meminta pada Baginda Sulaiman apabila tidak mampu membayar hutang maka Siti Nurbaya harus rela menjadi istrinya supaya urusan utang di antara mereka selesai.
Sang tokoh utama, Siti Nurbaya pun gelisah bukan kepalang karena ia merasa bahwa harus tetap setia pada kekasihnya, Samsul Bahri, yang sedang bersekolah di Pulau Jawa. Namun, keadaan keluarganya yang didera hutang juga takkalah mendesak hingga ia harus mengambil keputusan pahit yakni menerima pinangan Datuk Maringgih tanpa mengabari kekasihnya terlebih dahulu.
Suatu waktu, Samsul Bahri pulang dan tak sabar untuk menemui Siti Nurbaya. Ia kaget mengetahui kekasihnya kini sudah menjadi istri orang. Datuk Maringgih yang tidak menyukai Samsul Bahri pun menyebar fitnah hingga menyebabkan terusirnya Samsul Bahri dari kampong halamannya sendiri.
Dalam perjalanannya, ternyata Siti Nurbaya yang juga sudah diusir dari rumah, mencoba menyusul Samsul Bahri. Namun hal itu segera saja diketahui suaminya yang langsung membuat muslihat agar Siti Nurbaya kembali pulang. Sayangnya, Datuk Maringgih juga tak puas, hingga memutuskan untuk meracuni istri mudanya tersebut.
Kematian Siti Nurbaya membuat tokoh-tokoh utama yang lain dalam roman ini berubah. Samsul Bahri demi membalaskan dendamnya ikut dalam ketentaraan Belanda dan dikirim ke Padang untuk menumpas pemberontakan anti pajak yang dipimpin Datuk Maringgih.
Jika kita menilik pada penghujung cerita, kedua tokoh utama ini sama-sama menjemput ajal setelah terlibat pertarungan sengit dan mati dalam keadaan yang sungguh berbeda dari kisah awal yang dituturkan pengarang sebagaimana Datuk Maringgih sebagai tuan tanah licik yang mati membela hak-hak rakyat pribumi dan sebaliknya Samsul Bahri seorang tokoh terdidik namun di ujung kisah mati sebagai bagian dari kompeni.
Marah Rusli sukses membuat bagaimana alur cerita itu menjadi sangat hidup dengan pertikaian yang dalam realitas dapat ditemui dalam masyarakat di jaman colonial. Dalam novel ini juga dapat diambil pesan moral yaitu dalam situasi sulit sebuah karakter dapat berubah. Terkadang suatu sifat yang buruk dapat berubah jika keadaan memaksanya untuk memilih kebenaran dan sebaliknya.

DS. Jakarta 2015.

You Might Also Like

0 komentar: